Showing posts with label note to myself. Show all posts
Showing posts with label note to myself. Show all posts

Friday, August 28, 2015

Yang Kamu Nggak Tau

Biasanya saya semangat bicara soal traveling, tapi pagi ini enggak. Ini karena percakapan via telpon dengan ibu saya yang memang berbeda sudut pandang soal traveling. Saya kesal karena ibu tiba-tiba bilang: "Itu saudara kalo ada uang mikirinnya gimana nyantunin anak yatim piatu, lha kamu yang kepikiran jalan-jalan terus. Malu ibu." Terlebih sampai akhir weekend, adik saya pun sedang ada gathering yang isinya jalan-jalan di Malaysia dan Singapura. Jadilah ini dibahas juga. Mau membela diri tapi kalau yang namanya sudah beda stand point kan sulit.

Mungkin salah saya adalah UPLOAD FOTO DI FACEBOOK sehingga orang tua, sepupu, keluarga, dan teman-teman melihat kalau saya pulang bepergian. Dan saya nggak berpikiran kalau 'eh, nggak semua orang bahagia ketika kita bahagia lho'. Ah ya sudahlah, niat kita dan bagaimana orang berpersepsi kan bisa beda. Yang nampak di foto kan gambaran kebahagiaan, senyum ceria dengan latar tempat yang bagus-bagus dan bayangan menghabiskan uang banyak untuk tiket pesawat, hotel, makan, oleh-oleh, dan bermain-main yang semuanya nampak bak memuja kehidupan duniawi. Maka, perkataan 'menghambur-hamburkan uang saja' pun, bukan tidak mungkin menjadi kesimpulan.

Saya protes. Di sini saja. Seharusnya orang-orang sebelum berkomentar mengetahui lebih dahulu apa yang ada di belakangnya. Ah, tapi buang waktu lah ya. What you see is what you get. What's behind isn't important. Gitu kali ya.

Well, saya mulai senang traveling ketika berumur 25 tahun, yang kalau saya pikir sekarang sepertinya telat. Waktu itu saya sering pergi berdua bersama sahabat saya Shima. Destinasi pertama adalah Lombok dan Bali yang di tahun berikutnya mulai mencoba jalan ke negeri-negeri tetangga. Sampai sekarang pun masih begitu. Tipe traveling saya pun tidak berubah. Saya traveling sebisanya, sengumpulnya uang aja dan semuanya dilakukan dalam kondisi 'terjangkau', baik biaya, waktu, dan lokasi. Sumpah, nggak berboros-boros. Kenapa kadang keluar negeri? Semata karena tiketnya lebih murah. Mampunya begitu. (Jadi, tolong wahai traveler pecinta bumi Indonesia, jangan hakimi saya juga ya. Perjuangan orang beda-beda).

Kenapa saya traveling? Di umur 25 tahun itu, hidup saya bagai terkungkung. Saya punya bos yang bikin hati saya kerdil. Dan memang ada kok orang-orang yang hadir di dunia ini untuk menyiksa psikologis orang lain. Dan, saya adalah korban, sehingga di umur itu pun saya memutuskan pindah pekerjaan. Masa-masa menunggu pekerjaan baru, saya memulihkan jiwa saya dengan berlibur. Itu tadi, ke Lombok dan Bali. Sensasi bertemu orang baru, berjuang mencari jalan, berjuang bertahan hidup, hingga perasaan merindu rumah dan Kasih Sayang-Nya di perjalanan menjadi hal yang membuat ketagihan. Hingga saya pun bersedia menabung untuk traveling.

Kalau orang lain senang berganti ponsel atau belanja, saya memilih menabungnya untuk traveling. Ketika orang lain bisa bersenang-senang, saya menabung. Saya menyisihkan uang untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Menabung untuk masa depan pun saya lakukan juga. Itulah kenapa saya seringnya traveling murah. Bikin itinerary sendiri, nekat bawa uang sedikit, karena yang terpenting adalah pengalaman, bukan seberapa mewah kita berlibur. Level saya baru segitu. Impiannya tentunya: SEIMBANG: hidup nyaman, traveling enak dan lebih jauh, dan bisa berbagi serta beramal maksimal.

Orang lain tentu tidak peduli bagaimana saya menabung, bagaimana saya menghadapi apa yang suami saya bilang 'mencoba menjadi minoritas'. Orang mungkin akan berpikir: kurang kerjaan, nyari-nyari susah sendiri. Tapi yaaa.... memang beda dari sisi mana suatu hal itu dipandang.

Traveling adalah ujian prinsipil menjadi hamba Tuhanmu. Bagaimana bisa menjalankan sholat 5 waktu di lokasi yang mungkin tidak umum mengenal sholat hingga ketika nampak masjid di depan mata, rasa bahagianya bisa sampai di puncak. Iya, sholat di masjid-masjid yang berbeda itu menyenangkan dan mewarnai hidup. Kemudian, bagaimana mendapatkan makanan halal hingga terpaksa menahan lapar sampai benar-benar apa yang dikatakan Allah sebagai halal dan thayib bisa disantap. 

Traveling bisa membuat diri kita tertunduk dan mengakui kebesaran Allah. Melihat ciptaannya dan menyadari bahwa diri ini sesungguhnya hanyalah makhluk yang kecil di antara megahnya bumi Allah. Dan perjumpaan tak terduga dengan saudara-saudari sesama Muslim (bahkan berkenalan dengan Imam Masjid) menguatkan keimanan. Pun ketika bertemu dengan orang-orang dari beragam bangsa, budaya dan agama, semuanya memperkaya perjalanan hidup. Bahkan ketika kesulitan datang, bisa membuat diri ini bersyukur mengingat ada tanah air dan rumah untuk kembali sebagai tempat yang dimudahkan Allah untuk memuji-Nya.

Udah, mau bilang itu aja, kalo traveling cukup bisa bikin saya menahan emosi hanya dengan menulisnya, tanpa berteriak-teriak menyampaikan perasaan saya. Traveling justru harusnya menjadikan seseorang tidak sombong tetap merunduk karena memahami hakikat sebuah perjalanan.






Wednesday, August 26, 2015

SEA Trip 3: Finally Bangkok!

By the way, hari ini umur saya 30 tahun dan pagi tadi sudah sarapan pake red velvet cake hadiah dari suami plus secangkir milk tea, jadi sekarang masih kenyang... Ih makasih ya suami baik hati yang ngerti banget istrinya suka drama romantis dan selalu pengen dikejutkan. *siap-siap nonton Cinta di Musim Cherry* hehehehe....

Kece ya kece ya ;)

Yak, tapi saya bukan mau cerita itu. Saya mau cerita lanjutan perjalanan saya dan suami waktu liburan kemarin. Akhirnya ke Bangkok juga setelah 2 kali ke Thailand malah pergi ke Hatyai sama Krabi. Nah, setelah drama Melaka yang diredakan dengan santai-santai di Saigon, grafik emosi naik lagi pas nyampe Bangkok dong. Kenapa? Ya, namanya pun ibukota ya... jalanan ramai, orang-orangnya ngebut, dan pasang muka sibuk. Kami yang tiba di bandara Don Mueang sore hari dan naik bus A1 menuju BTS Mo Chit untuk lanjut ke BTS Sala Daeng dan jalan menuju Thrive The Hostel di daerah Patpong, jadi merasa seperti orang yang baru pulang kerja dan rebutan naik bus. Iya, kami berdiri di dalam bus yang ongkosnya cuma THB 30 dan bersisian dengan para pelancong yang membawa koper dengan wajah sungguh-sungguh sibuk. Mungkin hawa kotanya membuat kami semua seperti diburu-buru.

Kami juga sih yang memang memutuskan mau irit sehingga jika bepergian memang selalu menggunakan transportasi massal. Bikin itinerary komplit pake estimasi ongkos BTS dengan berpanduan dari website http://www.bts.co.th/customer/en/02-route-current_new.aspx jadi bisa memperkirakan biaya yang akan keluar. Nah, untuk liburan di Bangkok ini kami menghabiskan waktu 2 hari ditambah 2 hari lagi melipir ke arah pantai di Barat Daya Bangkok yaitu ke Cha Am dan Hua Hin.

Tiba di BTS Sala Daeng, kami agak kesulitan mencari lokasi Thrive The Hostel. Agak lama menemukan dan rasanya jauh. Padahal teman-teman sudah memberikan ancer-ancer. Ya, pengaruh rasa lelah membuat kami agak bodoh menerjemahkan peta. Btw, hostel ini didapat dari rekomendasi teman Alif dan teman saya dan mereka bilang ada jalan tembus 'ajaib' untuk bolak-balik BTS-penginapan. Untuk langkah pertama, tentunya kami lewat jalan normal. Nah, selesai kami beberes, malam harinya sekitar pukul 8 barulah kami siap jalan-jalan lagi. Mau lewat jalan 'ajaib' ah. 

Berjalan di jalan ajaib sungguh menegangkan buat suami saya. Iya, ini jalan isinya gay bar dan sejenisnya yang menyambung ke Thanon Thaniya yang merupakan red district-nya Patpong. Tapi, demi jalan cepat ya sudahlah ya... lewat saja. Nah, di Thanon Thaniya ini kami beli sim card merek AIS di Sevel setelah sebelumnya nggak beli di bandara. Kenapa? Karena kami cuma 4 hari-an di Thailand dan nggak butuh banyak data sementara di bandara dijual 1,5 gb. Kami memutuskan membeli yang hanya 500 mb dengan harga THB 199 (ya, paling cuma butuh untuk aplikasi maps, sedikit update status, dan yang terpenting bisa mengabari keluarga. Toh, di penginapan ada wifi). 

Malam itu, kami pergi ke Asiatique setelah naik BTS dari Sala Daeng turun di Saphan Taksin dan melanjutkan dengan free boat. Katanya, jam terakhir beroperasinya pukul 23:30. Jadi, yaa... saya dan suami tidak akan lama-lama di sana. Seru yaaa jalan-jalan di Asiatique. Nyaman dan menyenangkan selain bagus untuk foto-foto. Makanan halal juga ada di sana, tapi malam itu belum tergerak untuk makan jadi ya sudah kami menikmati suasana saja dan kembali ke penginapan.

Pemandangan Asiatique dari free boat

Free shuttle boat untuk bolak balik Sathorn Pier (Saphan Taksin) - Asiatique
 
Main-main di dalam Asiatique

Esok harinya kami pergi ke area Grand Palace, tapi lagi-lagi karena nggak fokus, salah belok. Setelah mengikuti petunjuk orang-orang untuk pergi ke Saphan Taksin dan naik kapal berbendera orange atau kuning (supaya bayarnya THB 15 per orang) dan tiba di dermaga N9, kami malah belok kanan. Akhirnya sampe di Wat Pho dulu. Eh tapi alhamdulillah, masih sepi jadi leluasa foto-foto di Wat Pho. Setelah membayar tiket THB 100 (gratis air mineral) kami keliling Wat Pho yang ditutup dengan foto andalan di reclining Budha.

Wat Pho



Lepas dari Wat Pho, kami berjalan memutar ke arah Grand Palace dan mendapati kerumunan padat orang-orang yang membuat kami merasa amat enggan masuk ke dalamnya sehingga memutuskan untuk memoto Wat Phra Kaew dari sisi luar istana saja. Lagipula kalau masuk harus bayar THB 500 (walau ada bonus masuk Dusit Palace juga). Kami lalu lanjut berjalan ke arah dermaga N8 dan memandang Wat Arun di seberang yang sedang DIRENOVASI AJA DONG. Jadi... bye deh ah males juga. Hihihi... padahal mah jadi bisa ngirit THB 3 buat boat + THB 50 buat masuk Wat Arun. Lhaaa... trus jadinya ngapain dong kalo cuma masuk Wat Pho? Tenaanggg.... kita lanjut cari tempat kece. Btw, banyak buah-buah segar di sekitar areal wisata ini, nggak ada salah nya lho cobain beli. Harganya bervariasi antara 30-40an baht, kecuali duren ya. Hihihi...

Wat Phra Kaew dari sisi luar Grand Palace

Wat Arun-nya keliatan lagi direnovasi

Okey, lanjut perjalanan. Setelah balik lagi ke Saphan Taksin, kami naik BTS ke Victory Monument dan lanjut cari bus ke arah Dusit Zoo dari halte besar di depan kawasan Rajavithi Hospital. Katanya bisa naik bus no. 28, 108, 510 atau 515. Kebetulan kami naik bus nomor 28 yang AC dengan ongkos THB 13 per orang. Tiba di halte Dusit Zoo lanjut jalan sekitar hampir 1 km ke gerbang Vimanmek Mansion dan masuk ke situ. Bagus banget tempatnya. Oia, tiket masuk situ THB 100 dan ada tur berbahasa Inggris pukul 11:00 dan 14:00. Berhubung kami sampai tengah hari bolong, jadi istirahat dulu untuk kemudian ikutan tur jam 14:00. Jadi Vimanmek Mansion ini adalah tempat peristirahatan King Rama V. Ada banyak cerita-cerita terutama soal koleksi-koleksi keramik sang raja dan bagaimana raja ini pinter banget sampe sekolah di luar negeri dan menjalin persahabatan dengan negara-negara lain lewat perdagangan (ya pesen-pesen keramik atau barang mahal apalah). Seru masuk mansion ini karena kan lantainya dari kayu jati asli. Adem...



Selesai tur, kami lanjut lagi. Ngapain? Mau nengokin Ananta Samakhom Throne Hall. Ini tempat bagusnya kebangetan kayak lagi di eropa (belom pernah ke sana padahal sih). Tapi, lagi-lagi kami nggak masuk karena kali ini udah kelaperan bangeettt dan capek luar biasa. Jadilah kami cukup berfoto-foto di luar. Next time ke Bangkok, mau ah masuk. Oia, harga tiket masuk ke sini THB 150. Ini museum juga sih sebenernya isinya, tapi kalo baca-baca review orang, baguuusss banget. Sayang sebenarnya harus terlewati.



Nah, karena udah kelaperan, kami balik ke Victory Monument (kali ini dapat bus no. 28 tanpa AC ternyata tarifnya THB 6,5 per orang) dan lanjut naik BTS ke Ratchathewi untuk main-main ke Mall Platinum. Bukan main sih ya, sholat dan makan aja. Daaannn...saya sukaaaa banget sama mall ini karena tempat sholat-nya bersih, bagus, ada lotion-nya juga plus makanan halal di food court-nya harganya terjangkau (sekitar THB 45 untuk semangkok hidangan sejenis bakso). Mushola di mall ini untuk laki-laki ada di lantai 5 dan perempuan di lantai 2 di zona 2 dekat lift dan toilet.



Nah... setelah cukup istirahat, tadinya kami mau ngemil-ngemil cantik di depan Platinum tapi entah gimana akhirnya malah jalan terus keluar mall mengarah berbelok ke Jalan Ratchadamri. Melihat ada supermarket Big C kami belok dan iseng ngecek harga Nestea Thai Milk Tea. Ternyata miriiiinggg harganya. Kalau di tempat lain sebungkus THB 100, di Big C cuma 90, jadilah kami beli 6 bungkus untuk oleh-oleh dan titipan teman. Selepas belanja dan minum kelapa, kami mencari BTS terdekat (ternyata ada BTS Chit Lom) dan kembali ke penginapan. Harus istirahat nih karena besok mau jalan-jalan ke luar kota. Hihihi.. Oh btw, saya kalo beli kelapa kecil di Thailand suka gemes karena itu kan kelapa muda ya, tapi nggak dikerokin sama yang jual padahal saya suka sekali sama degan-nya. Akhirnya kelapa yang sudah habis airnya itu nggak saya buang tapi saya bawa ke penginapan, saya beli air kelapa kemasan di sevel, dan sesampai di kamar di penginapan saya makan daging kelapanya dengan air kelapa kemasan. Hehehe... Saya nggak mau rugi orangnya!

Asik ya, menutup hari dengan manisnya kelapa Thailand ;)

Tuesday, January 6, 2015

2014: Keep On Moving!

Telaaattt banget bikin rekap 2014. Kalau tahun lalu masih bisa bikin di penghujung tahun, yaaaa... kali ini tahun barunya beda sih. Tapi, tapi, tapiiii... saya merasa jauh lebiiiihhh damai. Bagaimana tidak? I don't have to meet many people and see the crowd. Saya cuma tidur pulas saja dari jam 9 malam sampai subuh. Alhamdulillah.... Which actually also mean, I'm getting older, gak kuat juga melek sepanjang malam gitu (kecuali kepepet ngerjain test -__-).

Senengnya di tahun 2014 adalah bisa jalan-jalan ke beberapa tempat, dan ternyata punya suami nggak menghambat mimpi terus jalan-jalan, malah justru bikin batin tenang. Lha... namanya juga suami kan? :)... Alhamdulillah bisa ke Bandung, Belitung, Jogja sampe 3 kali setahun. Gongnya ya itu, ke Krabi dan sukaaa banget jalan-jalan ke sana berikut semua rangkaiannya dari KL lewat Hatyai dan semuanya aku sukaaa.....

Tahun 2014 adalah tahunnya kembali mengejar cita-cita. Alhamdulillah, saya bisa kuliah lagi dan dibayarin kantor, walau seleksinya lumayan ribet dan bikin deg-degan. Belum lagi mesti ikut banyak tes. Tapi, semua itu demi mimpi yang sempat tertunda. Dapat kesempatan nulis lagi walau cuma sebentar pun semacam achievement buat kembali menyemangati diri kalau 'gw masih bisa lho'...

Saya yakin, semua pasti punya ups and downs nya di 2014. Sama lah seperti saya yang juga punya kesedihan di beberapa hal. Gagal di satu hal yang sama berkali-kali tapi tau bahwa Allah memang paham apa yang terbaik  buat hamba-Nya. Yang paling penting selalu berusaha positif dan saling mengingatkan orang yang kita sayang dan sahabat-sahabat bahwa punya semangat itu lebih penting dan....... 

berusaha mencoba walau gagal itu jauuuuhhh lebih memuaskan ketimbang menyaksikan orang lain sukses menjalani mimpi kita. 

Tuesday, June 10, 2014

Pause!

a temporary stop

because................

"surely, silence can sometimes be the most eloquent reply"
-Ali ibn Abi Thalib ra-

Thursday, April 17, 2014

Indah



Tadi pagi baca ini di path. Bahan renungan banget. Jadi inget tulisan saya soal beda kondisi seseorang dengan orang lain. Alangkah menyenangkan ya seandainya 'pamer dan gengsi berlebihan' disingkirkan dan bisa menikmati kebaikan dan kesyukuran bersama-sama.

Friday, February 7, 2014

Pikiran Abstrak Gara-Gara Obrolan Yang Bikin Galau

Banyak obrolan hari ini. Yang diobrolin tentang hal yang nggak sejajar. Hayooo... kamu di atas atau yang di bawah??? #soundswrong 

Ok, gini... Dalam hidup harusnya lebih maju, harusnya lebih baik. Nggak boleh mundur. Huwaaa.... 
Not gonna blame on anyone :). 

Bersyukur kalau seandainya kamu bisa bawa mobil bagus yang bisa maju kenceng, nggak ada persneling mundurnya dan jalanan lowong. Kan nyampenya jadi lebih cepat.  Bersyukur juga ketika dapet mobil yang jalannya pelan, hati-hati kan bawanya. Nyampe juga kok. Yang mobilnya second, yang kredit, yang masih butuh service... bersyukur juga. Belajar sabar kan. Yang belum punya mobil tetep mesti bersyukur. Jalan tiap orang itu bertahap kok dan perjuangannnya berbeda-beda. Duh, kenapa jadi ngomongin mobil? -__-

Ini nih yang jadi saya pikirin. Ketika ketemu sama orang yang 'lebih' udah biasa kan ya dibilang: "Jangan ngiri untuk hal-hal gitu, harusnya jadi penyemangat kalo orang bisa lebih dari kita". Eh tapiiii... ketika kita yang ada di posisi lebih, nggak seharusnya juga kita merasa kasihan berlebihan. Empati, bukan simpati! Gimana caranya biar bisa terdengar enak saat bicara dengan orang yang sedang dapat ujian dan kita berada di posisi beruntung?

Gimana ya, bikin orang yang lagi punya masalah itu bisa jadi termotivasi dan bukannya jadi mikir yang ngomong tuh sombong dan akhirnya terlontar "Ya lo enak, kondisinya beda. Lha gw....?" Huwaaa... gimana ya biar bikin orang bersyukur dengan hidupnya dan semangat menghadapi tantangan?

Trus jadi berefleksi. Ya, ibaratnya, kalau semua yang saya inginkan sudah terpenuhi, pasti saya malas berdoa. Pasti saya malas meminta. Makanya, sedang belajar dan mencoba selalu bersyukur atas segala berkah dan kenikmatan. Nggak mau mencari-cari yang memang nggak ada. 

Yang kurang-kurang, pasti ada jalan keluarnya kok. Saya cuma percaya, kalau setiap orang, (termasuk saya)... inginnya menjadi lebih baik. Tinggal gimana kadar usaha saya. Tinggal gimana mengumpulkan keberanian, kepercayaan diri, dan menanggalkan gengsi untuk berubah menjadi baik. Berubah baik dengan ikhlas tanpa beban: "Ah, ntar gw berubah dikira nurutin dia". Atau "Makin disuruh, makin males ih gw."

Dunia orang dewasa memang rumit kalau dirumitkan. Lagi-lagi, gimana biar ketika bicara tidak menjadikan diri sebagai pusat... tapi tulus bicara dari hati untuk ah... lagi-lagi demen nyebut ini: the spirit of being good together.

Ah, asik ya jadi kamu. Eh bukan, kamu pasti punya ujiannya sendiri, kan?

(Nyanyi lagunya John Legend yang Ordinary People atau Anything I'm Not -nya Mpok Lenka)

Wednesday, December 26, 2012

A woman's gotta do what a woman's gotta do

Eliminate what is needed to be eliminated
Forgive who is needed to be forgiven
Forget what doesn't need to be remembered
Smile and heads up


Have a faith...
"Selalu ada jalan, kalau kita mau jalan"

Tuesday, December 11, 2012

Still in 2012

When life surprises you, don't be afraid to take a LEAP of FAITH

-Leap Year, Movie, 2010-

Tuesday, December 4, 2012

Rainbow After The Rain

http://nengshare.blogspot.com/2012/08/between-sun-rain-and-rainbow.html


So, I don't want to hold it back this time
And, I just can't

Tuesday, September 25, 2012

The Prophets

Kembali yakin bahwa nggak ada hal yang kebetulan. Pagi ini nemu statusnya Jeung Tita yang sungguh ciamik menjadi penyemangat hari ini, dan semoga seterusnya. Since si iman ini hobi bener naik turunnya ya sodara-sodara

When people who share the same blood as you hurt you, then
just remember Yusuf (as), who was betrayed by his own brothers.
If you find your parents opposing you,
remember Ibrahim (as), whose father led him to the fire.
If you're stuck with a problem where there's no way out,
remember Yunus (as), stuck in the belly of a whale.
If you're ill & your body cries with pain,
remember Ayoob (as) who was more ill then you. 
 
When someone slanders you, 
remember Ai'sha (ra) who was slandered throughout the city. 
When you're lonely, recall Aadam (as) who was created alone. 
When you can't see any logic around you, 
think of Nuh (as) who built an ark without questioning. 
If you are mocked by your own relatives 
then think of prophet Muhammad (saws). 
 
Allah (swt) put these prophets to trial, so
that later generations may learn a
lesson of patience & perseverance

Wednesday, July 4, 2012

In a Good Way





Never be afraid to be your self, in a good way...
Because you never know
People might get inspired by you:)

Friday, June 8, 2012

Being More Me

Lately, I feel so bad about my life. I'm lack of confidence. I hate being the antagonist one, every time I stand along good people. I don't know why in a lot of time, they make me do it. Why don't just be good together?

I don't want to blame anyone. I know it's all about me and my still-dirty-and-not-sincere heart. I think I'll try to fix it. Yeah, I'll try...

Well, opening my twitter timeline, I found some interesting things to, let's say, help me facing these...

No matter what you look like, Allah made you that way & for a reason too. That's enough for you to feel confident.

The bad things in life open your eyes to the good things you weren't paying attention to before.


"If your request is delayed there is no doubt that in that delay maybe all you wish for." -Al-Habib Ali al-Habashi

and maybe, I shall try this also:

Having trouble focusing in prayer? Visit the grave.

Monday, March 5, 2012

Perjalanan



Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman (34:18)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur (34:19)



Petikan ayat penyemangat mimpi. Akan selalu ada jarak dalam meraihnya. Ada kalanya istirahat sejenak. Berhenti di pit stop.

Untuk mimpi-mimpi yang tertidur... Untuk jiwa yang sering menunda... Kadang memang sulit untuk memulai. Namun saya percaya kesabaran dan rasa syukur mutlak diperlukan...

Bismillah...

Friday, January 20, 2012

Jika Saya adalah Sebuah Lagu


Ceritanya tulisan ini pas umur saya 24 tahun, pernah dapet juara 2 'Jika Saya adalah Sebuah Lagu' yang diadakan teman saya Retnadi a.k.a. Retno sang pemilik Halaman Moeka Publishing. Waktu itu dapat hadiah belanja buku di HM:)

Inilah cerita hidup saya. Jika saya adalah sebuah lagu, maka selama hampir seperempat abad hidup saya, kata-kata yang mengelilingi saya adalah “Good Riddance (Time of Your Life)”-nya Greenday.

Inilah hidup saya. Bahwa hidup menyediakan beragam pilihan dan bahwa saya mesti berkenan menentukannya. Memilih untuk diri saya namun di saat bersamaan sebenarnya saya juga melakukan pilihan untuk orang tua, untuk keluarga, teman-teman, lingkungan, dan bahkan takdir saya. Lantas yang manakah yang terbaik?

Inilah hidup saya. Selalu seperti itu. Selalu ada another turning point (titik balik lain) dan terkadang membuat saya terjebak di jalan yang bercabang (a fork stuck in the road) terutama ketika waktunya semakin mendekat. Sering kali saya bertanya-tanya, sebenarnya apakah hidup yang saya jalani ini memang yang saya inginkan ataukah hidup yang harus saya jalankan.

Inilah hidup saya. Terangguk lah kepala saya kala mendengar kata-kata yang membuat saya menyadari kembali apa yang saya pilih.

so make the best of this test/ and don’t ask why/
it’s not a question/ but a lesson learned in time

jadi buatlah yang terbaik dari tes ini/ dan jangan bertanya mengapa
ini bukanlah pertanyaan/ namun pelajaran pada waktunya

Inilah hidup saya. Saya memilih berusaha menjadi yang terbaik. Contohnya adalah nilai yang saya rasa selalu baik, pergaulan yang saya rasa aman, citra yang saya rasa positif, pekerjaan yang saya rasa baik. Meski terkadang tidak cukup bagi orang tua ataupun bagi keluarga karena mereka berpikir saya pasti bisa jauh lebih dari terbaik. Saya pun tetap memilih berusaha menjadi yang terbaik meski bisa jadi tidak dianggap tepat oleh teman-teman maupun lingkungan.

Inilah hidup saya dan saya akan merasa rugilah ketika saya mati-matian berpikir dan berusaha untuk menjadi yang terbaik namun melupakan kenikmatan hidup. Itu berarti hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk orang lain namun tidak untuk diri saya.

Inilah hidup saya. Saya tidak ingin melupakan indahnya cahaya kunang-kunang yang saya lihat, wangi bunga aster yang saya cium, tajamnya kulit buah durian yang saya raba, pahitnya pare yang saya kecap, dan deburan ombak pantai yang saya dengar. Ya… tattoos of memories…, segala yang saya alami sepanjang proses menentukan pilihan-pilihan, baik yang sederhana hingga pilihan antara hidup dan mati.

Dan inilah hidup saya yang penuh pilihan. Ringan ataupun beratnya, saya lah yang harus menentukannya.

It’s something unpredictable/ but in the end it’s right
I hope you had the time of your life

Ini adalah sesuatu yang tak terduga/ namun pada akhirnya tepat
Aku berharap kau memiliki waktu dalam hidupmu

Inilah dia realitasnya. Inilah dia hal yang harus selalu dihadapi. Entah per berapa abad lagi perjalanan yang bisa saya tempuh bersama matahari. Inilah saya. Sang Pemilih yang telah memilih harus menikmati hidup.

Tuesday, January 3, 2012

Another Leap Year to Go Through: 2012



Bad times and good times come and go. Lovely smiles, freedom shout, tears and warm laugh from 2011. My fall and my rise. And as you know, simple things happened. Families and best friends stay, but bad people went their own way. I really thank Allah for that.

Year 2011, first time I used my passport. Not bad for a beginner, I went to Malaysia, Thailand and Singapore.

I joined 26th SEA Games committee in Jakarta and watched Indonesia's soccer team in Gelora Bung Karno for the first time. I sang my national anthem there. Yeay, I'm really proud of my self.

Year 2011, it was also the first time for me to fall for someone so deeply that caused me a big hole hurt in my heart. And yes, too much at something is bad enough.

Year 2011, closest people got married. My brother Hanief, best friends: Amiko, Wiwid, Anita, Fany, Dina, Tenny, Arin, Mita. Whoaaa....really happy for them:))

Me? Failed on that point. Let's just say that 'he' wasn't meant for me, or I was stuck in friend zone, or I was misread.

But it's all about learning. Learning to accept the reality. Learning to see the truth. Learning to find the light in the darkness and be patient to reach what I really want.

That a new year is just a momentum. Just like the other ordinary day. But I do love this quote: “Don’t give up what you want most, for what you want now.”

Year 2012 is gonna be different. We've got a day more than 2011. It's a leap year again, my friend. So, let's do something better and pray more.

Sunday, October 9, 2011

Desahan Akhir Pekan

Kadang-kadang bukan tentang isi pesannya. Bukan pula medianya. Atau orang yang menulisnya. Kadang-kadang cuma isi kepala kita yang mesti disusun ulang atau hati kita yang mesti dilapangkan, supaya melihat segala sesuatu tidak dengan prasangka kejauhan, tidak dengan reaksi berlebihan atau merasakan terlalu mendalam.

Kalau hanya kekusutan, tundalah bereaksi. Mungkin itu bisa lebih baik. Mungkin... daripada menyesal sudah melakukan hal bodoh....




Friday, August 26, 2011

Getting Closer to 30s



For me, actually every 26th of August is just another ordinary day older. Nothing special. But I feel very grateful for every breath I take and the chance to live another day. Alhamdulillah...

A quote to be noted to my self:

Jadilah pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang lembut, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan...

Monday, July 4, 2011

Kembali Klise

http://www.redbubble.com/people/artivity/art/4835972-let-life-flow


Episode mikir lagi:
Obrolan pagi hari bersama Mbak Anno di kantor yang lagi agak-agak sepi kerjaan, pasca HUT Kota Jakarta. Lucu juga bicara tentang hidup dan bagaimana orang-orang bereaksi terhadap suatu peristiwa.

Buat orang yang pola pikirnya agak ribet dan kadang dramatis model saya, mungkin kalau menganalisa sesuatu bisa lamaaaaaa banget. Nggak jelas dapet ilham dari mana tiba-tiba jadi terlalu kreatif melihat masalah:

Helicopter view.
Nge-cek dari segala sudut pandang.
Empati berlebih.

Efeknya: bisa sangat paham bagaimana berada di posisi orang lain. Tapi, kan orang lain nggak melakukan hal yang sama terhadap saya sehingga kadang-kadang berakibat: STRES.

Dengan makin mendalami suatu masalah, muncul sisi-sisi filosofis. Nah, itu penyelaman jiwa yang bikin seseorang makin kaya. Lucunya, kadang-kadang tanpa disadari kita akhirnya kembali pada rangkaian kata-kata yang sifatnya klise setelah berjuang melewati sekian fase pemikiran:

Misalnya berdoa:
Ya Allah, limpahkan kesabaran yang besar bagi kami untuk menghadapi masalah ini (klise, tapi emang dibutuhkan sangat, karena sabar itu ternyata beraaaatttttt)

atau bilang gini:
Gw bingung mesti gimana ya? Kayaknya 'let it flow aja deh' (klise, tapi manusia kan nggak bisa mengelak dari takdir)

Yang paling powerful sih ini:
Time will heal (padahal ini relatif juga, tergantung otak sama hati bisa sinkron atau nggak. Tapi bener sih kalau waktu itu membiasakan)

Nah, sampai lah ke kata-kata yang nggak ngerti gimana, bikin saya sama Mbak Anno ini sepakat nggak terlalu suka. Karena paham kami: sembuh itu nggak bisa dipaksakan; beres itu juga nggak bisa dipaksakan.

"Kalau lagi ada masalah, mau jatuh ya jatuh aja. Down, drowning, whatever ya biarin aja". Biarkan jiwa mencari fitrahnya dan kembali kepada yang seharusnya. Kira-kira begitu. Maka, otomatis kalimat klise macem "Everything's gonna be okay" jadi susah buat diterima karena 'okay' itu tak terdefinisi sama bagi tiap orang.

Tapi siapa yang ingin berlarut-larut dalam masalah? That's why we take time, take a deep breath and try to fix all the mess:)

Mmm... kalo klise lainnya apa lagi ya?

Wednesday, May 25, 2011

I surrender

at the top of my confusion

between heart and mind

I surrender



for He knoweth well the (secrets) of (all) hearts.


to Him all affairs are referred back