Showing posts with label pit stop. Show all posts
Showing posts with label pit stop. Show all posts

Monday, June 6, 2016

AIR (Asia) Penang Trip 2016

Pukul 03:45, jalanan masih gelap tapi langkah kami sudah bergegas. Terlalu bersemangat malah untuk ukuran orang yang kurang dari 4 jam tidur. Efek bahagia mau liburan sepertinya. Hehehe... Iya, ini karena sebulanan belakangan Palip (lagi demen nyebut 'Alif' begini dalam hati, hahahaha) sibuk dengan roadshow acara kantornya dan saya galau tak berkesudahan menghadapi tesis saya dan cobaan-cobaan lain dalam hidup. Hahahaha.... Jadi sungguh, ini adalah waktu yang lumayan tepat bagi kami santai sejenak tanpa memikirkan apapun kecuali 'gimana kalau nyasar atau over budget?'

Dan....seperti biasa, kami booking Air Asia yang di bulan November 2015 punya program BIG Point 0 (artinya kita cuma bayar airport tax saja untuk bepergian). Untuk tiket berdua PP Jakarta-Kuala Lumpur (KL)-Jakarta kami dapat harga Rp. 585.000,- dan untuk lanjut ke Penang cukup bayar 36,04 MYR* (sekitar Rp 120.000 kurang berdua). Penang-KL kami memutuskan naik bus (karena pesawat balik kebetulan kurang cocok harganya) dengan tarif 38 MYR per orang. Kok ini jadi murahan naik pesawat ya itungannya? Hahahaha... Sempet iseng cek web Malindo yang harga tiketnya murah banget 19 MYR, tapi pajaknya kok ratusan sih -___-.


*Catatan: 1 MYR sekitar Rp. 3.300,-

Trus gimana Penang?

Lewat jalur darat yang makan waktu 4,5 jam atau lewat udara yang cuma setengah jam dari KL, Penang sama-sama mengesankan. Kenapa? Suguhan pemandangan saat memasuki pulau ini sudah membuat hawa liburan terasa. Jambatan Pulau Pinang atau hamparan pemandangan dataran tinggi pasti menyambut setiap pelancong yang datang. Terlebih lagi, transportasi murah, ragam makanan yang cocok di lidah dengan harga masuk akal, serta kotanya bisa membawa kita merasakan beragam suasana: Melayu, Cina, India, bahkan rasa kebarat-baratan yang otentik bisa ditemui di sini. Hal paling penting buat saya: kopinya enak! (kopi warung lho bukan versi cafe).

Nah, pemeran perjalanan kali ini adalah saya dan Palip si suami satu-satunya (ya iyalah) dan teman kantor merangkap teman kuliah saya yang pinter banget, Mbak Ratih. Makanya judul posting kali ini AIR (Alif, Ied, Ratih—alay detected). Hahahaha....

Karena kami naik pesawat untuk masuk ke Pulau ini, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Terminal Bus Komtar dengan bus jurusan jetty (kalau tidak salah no. 401 karena cuma ada 1 bus itu) yang sudah terparkir rapih begitu kami keluar bandara. Dengan tarif 2,7 MYR selama setengah jam perjalanan, kami pun tiba di lokasi. Menginap di Kimberley Hotel di Jalan Sungai Ujong cukup menyenangkan karena tinggal menyeberang jalan dari Komtar. Saya dan Palip menginap di kamar standard king dengan ukuran tidak terlalu besar dan tampias ketika turun hujan, wifi pun kurang kencang. Tapi, teman saya, Mbak Ratih, dia mendapatkan kamar dengan posisi di depan yang menurutnya memuaskan. Btw, desain kamarnya simple, minimalis dengan pencahayaan temaram, jadi terlihat sangat indah sebenarnya. 





Our simple Standard King Room

Setelah beberes, kami berniat mencari cafe untuk menghabiskan malam. Pilihan pertama adalah Tavern in Park di Jalan Timah yang menuai beragam pujian baik di blog-blog maupun di Instagram. Seorang teman pun merekomendasikan. Makin mantablah langkah kami. Tapi sayang, begitu tiba di sana sedang ada instalasi untuk pop up market yang diadakan pada hari Ahad-nya. Jadilah bayangan tempat yang menawan dengan lampu-lampu indah sirna seketika. Untunglah set crostini yang saya pesan punya tampilan menawan dengan rasa yang sangat memuaskan. 

Crostini: A set of 3 for 18 MYR (Peanut Butter Banana, Strawberry Blueberry, and Smoked Salmon)

Masih merasa lapar dan agak kecele, kami mencari cafe lagi dari daftar contekan itinerary dan membandingkan foto-foto yang tersedia di dunia maya. Pilihan pun jatuh ke Awesome Canteen at Sekeping Victoria. Aduuuhhhh.... yang ini kece beneran tempatnya dan kami langsung khusyuk foto-foto. Di sana Palip pesan orange kyuri smoothies dan Mbak Ratih coba spaghetti aglio olio sementara perut saya masih cukup puas dengan crostini tadi jadi memutuskan untuk menikmati suasana saja. Setelah habis semua makanan, kami pun kembali ke hotel dengan berjalan kaki. (Iya, kemana-mana asal di bawah 2 km masih dijabanin jalan kaki walau pegel juga kalau jaraknya maksimum. Well, pertambahan usia memang tidak mampu berdusta. Hahahaha...)

Interior-nya Awesome Canteen

Keesokan harinya (Jumat, 27 Mei), kami sarapan nasi lemak di Komtar dekat dengan tempat kami mencegat bus Rapid Penang. Tadinya tidak menyangka rasa makanannya akan enak karena namanya pun makan di terminal ya. Tapi, ternyata dengan harga murah kami puas makan nasi lemak yang enak dan bersih lengkap dengan minum kopi (bukan kopi O, kalau pagi-pagi lebih enak kopi pake susu) dan nyicip snack enak. Palip suka sekali dengan popiah, sejenis lumpia, sementara saya, apapun makanannya, pasti minum kopi. Ya abis, 1 ringgit aja dapet rasa yang kental, tanpa ampas, manisnya pas, dan nggak bikin saya sakit. Hihihii...

Selepas sarapan, perjalanan pun dimulai. Kami naik bus no. 204 (bisa juga 203 dengan tarif 2 MYR) untuk pergi ke Kek Lok Si Temple. Suasana masih sama dengan 5 tahun lalu ketika saya pergi ke sana bersama sahabat saya. Lelah menapaki anak tangga dan mendapatkan konsep tempat wisata yang ‘nanggung’ karena jalan menuju lokasi yang seperti tidak dirawat baik dan agak terkesan kumuh. Tapi, setelah naik lift ke atas (3 MYR bolak-balik), pemandangan di atas memang bagus; dan yaaa... bolehlahhh foto dengan latar belakang Dewi Kuan Yin setinggi 30,2 meter.



Seru ya foto-foto di atas gini macem di Hongkong (padahal belum pernah ke HK)
Puas dan lelah dengan perjalanan di Kek Lok Si, kami mencegat bus 204 lagi menuju Bukit Bendera dengan tarif 1,4 MYR. Mau liat, seperti apa kerennya Penang Hill yang sering disebut orang-orang. Dengan membayar 30 MYR per orang kita bisa naik kereta dengan lintasan sepanjang 1.996 meter bolak-balik. Namun, tepat saat kereta akan berjalan, hujan turun lebat. Saya, Palip, dan Mbak Ratih cepat menyusup ke ruang kemudi agar bisa mendapatkan pemandangan lintasan kereta. Sebenarnya ada yang menyarankan, agar mendapatkan sensasi maksimal, saat kereta bergerak menuju upper station, pilihlah tempat di belakang dan saat turun pilihlah tempat di depan. Namun, dengan kondisi pengunjung yang amat banyak, kami tetap pilih tempat di depan agar bisa melihat pemandangan, bukannya melihat punggung pengunjung lain.


Pemandangan dari Penang Hill dan Owl Museum

Sampai di atas gimana? Bagussss banget pemandangannya. Puaslah foto-foto. Hawanya pun sejuk. Dan karena hujan pun sudah berhenti, tersisalah kabut yang menggantung. Romantis gitu lah... Hahahaha.... Nah, terus dengan isengnya kita masuk ke Owl Museum. Sebenernya ini karena obsesi saya sama burung hantu. Seneng aja sih liatnya walau sebenernya agak nggak meaning juga masuk karena ujung-ujungnya jadi tempat jualan souvenir. Untunglah, karena saya membawa student card, diskon 50% dari yang aslinya 12 MYR jadi 6 saja. Hihihi... selesai ke museum, laper dong. Ada 2 pilihan tempat makan di atas. Pertama yaitu David Brown’s Restaurant & Tea Terraces buat yang suka fine dining, dan satu lagi versi makanan merakyatnya ada di Cliff Cafe. Pastinya kami masuk Cliff Cafe dong, makanannya pun enak dengan harga wajar. Terlebih setelah lelah jalan-jalan, minum teh ais (es teh tarik) sungguh yaaa melunturkan hawa-hawa negatif, jadi seger lagi.



Kami pulang masih siang, sedih deh, nggak ada jumatan di mesjidnya Penang Hill, padahal banyak lho yang udah naik dan pengen jumatan. Jadilah kami kembali ke hotel dulu, sholat dan istirahat. Sekitar pukul 17:30 waktu setempat (dan amazed karena masih terang benderang bagai jam 15:00) kami naik free shuttle bus dari Komtar untuk iseng nengok daerah sekitaran Padang Kota Lama dimana ada city hall dan esplanade serta entah pantai apa namanya. Rencananya, menikmati es krim kelapa dengan taburan jagung manis, kacang, dan kolang-kaling sambil menunggu matahari terbenam.

Eskrim dan selfie nggak karuan

Daaann... karena tak kunjung terbenam, kami tak sabar, hahahaha... jadilah kami berjalan kaki mencari minum ke arah Masjid Kapitan Keling menunggu waktu magrib di sana (jam setengah 8 malam aja dong baru magrib). Setelah menjamak sholat, kami berjalan kaki mencari bus yang mungkin dapat membawa kami ke arah Persiaran Gurney, sayangnya, jalan terlalu gelap dan sepi sehingga kami putuskan untuk memesan taksi online saja. Dengan jarak sekitar 5 km-an dan tarif 5 MYR kami tiba di Persiaran Gurney dan ditunjukkan oleh pak supir baik hati tempat makan ‘komplek halal’.

Di sana, Palip dengan semangatnya menuju ke tempat beraneka ragam lauk terpampang dengan tulisan: PASEMBUR—ROJAK—CUCUR UDANG. Beraneka gorengan seperti bakwan, udang goreng, tahu, dan semacam otak-otak, serta aneka hidangan lauk yang diberi tepung lalu digoreng bisa dipilih bebas oleh pembeli dan kemudian diberikan kepada penjual untuk selanjutnya dipotong-potong, diberi taburan sayuran (kayaknya bengkoang, timun, dan wortel) dan disiram bumbu kacang manis. Jadilah Pasembur. Walau terlihat seperti ‘diublek-ublek’, anehnya enak lho rasanya. Mbak Ratih tetep lho order nasi lemak tapi ikutan beli cucur udang yang disiram bumbu kacang, sementara saya iseng mencoba satay lembu yang ternyata muanis banget rasanya. Untung saya nggak salah pilih minuman, karena saya pesan ais limau yang segar dan ringan rasanya untuk mengimbangi pasembur dan satay. Ini sebenarnya kayak minuman jeruk kunci di daerah Sumatera. Karena hari makin larut, selepas makan dan mampir sebentar ke Gurney Plaza, kami menyudahi hari dengan kembali ke hotel.




Dipilih...dipilih....


Setelah dipotong-potong dan disiram bumbu

Keesokan harinya (Sabtu, 28 Mei), hari terakhir Mbak Ratih di Penang, sementara saya dan Palip masih punya sisa waktu 1 hari. Kami mau foto-foto di bagian Georgetown yang disebut-sebut sebagai World Heritage Site. Sebenarnya sih, nggak terlalu peduli bagian mana sih itu heritage-nya. Inceran utama sesungguhnya adalah: STREET ART-nya dong pastinya. Tapi, sebelum itu kami mencari Sri Weld Food Court yang katanya ada Ali Nasi Lemak di depannya. Nasi lemak baru matang dan siap dibungkus-bungkus pukul 08:30 sementara kami sudah ada di lokasi dari pukul 07:45, jadilah sembari menunggu saya tetap yaaa pesan kopi dan ternyata penjual nasi lemak sudah siap dengan beragam gorengan seperti bakwan. Indera penciuman saya yang tiba-tiba tajam menangkap aroma cempedak, dan tanpa pikir panjang langsung saya bungkus. Oh iya, trus gimana rasa nasi lemaknya? Juara sih menurut saya. Pantes lah orang-orang antri.


Kopi favorit dan cempedak goreng yang biasa aja penampakannya tapi oke banget rasanya



Nasi lemak disusun berjejer disiram kuah dan ditaburi lauk pauk dengan aroma harum ketan dan daun pisang: irresistible!


Selesai makan, berbekal peta di tangan, pastinya kami pengen punya foto-foto mural. Nggak tau deh judul aslinya apa saja, pokoknya mural-mural itu jamak dipajang para pelancong yang pergi ke Penang dan menurut kami itu adalah ciri khas. Jadilah kami mengelilingi kawasan George Town dan mencari lokasi-lokasi mural yang ternyata terpencar-pencar dan tak jarang tersembunyi. Seruuuuu..... apalagi kalau fotonya antri, yang ada jadi salah tingkah pas mau gaya.





Jalanan pagi berasa dimanaaa gituuuu....


Pasti familiar dong sama mural-mural ini: happy banget nemu mereka
Seharian berputar-putar sampai matahari tepat di atas kepala. Tapi, masih ada satu lokasi seru lagi nih. Upside Down Museum alias Museum Kebolak Balik lah yaaaa... Bayarnya 27 MYR, tapi karena lagi-lagi ada student card, saya dapat diskon jadi cuma bayar 16 MYR. Museum ini menyenangkan. Kenapa? Karena ada staf-staf museum yang sudah hapal betul spot foto dengan angle terbaik. Mereka mengarahkan kita di setiap ruangan dan mengambilkan foto serta video para pengujung (pake perangkat miliki pengujung pastinya). Mungkin inilah kenapa masuknya agak mahal ya untuk ukuran museum yang tidak terlalu luas, karena memang ada jasa mengambilkan gambar. Tapi, malah jadi rapih, pengunjung pun tertib.


Ketika hidup serasa jungkir balik

Selesai foto-foto dengan gaya-gaya akrobatik (man, pegel banget udah lama nggak yoga terus mesti kaki tangan peregangan mulu) kami kelaparan. Daftar tempat makan kami berikutnya adalah: Nasi Kandar Line Clear. Nama ini selalu muncul tiap kali googling makanan di Penang. Penasaran dong jadinya. Akhirnya kami (lagi-lagi) jalan kaki dan menemukan lokasinya berada di sebuah gang. Bentukannya nggak seperti restoran tapi banyak sekali yang makan di situ, dan selalu antri. Soal rasa gimana? Saya kasih bintang 5 dari 5. Kenapa? Itu nasi biryani-nya enak banget, nggak amis, nggak aneh. Bahkan Palip yang picky eater pun doyan. Sialnya, siang itu saya percaya diri banget ngambil udang (sumpah, ini cuma sebiji doang) sama ayam goreng segala lengkap dengan sayur kubis dan pesan ais limau. Kena berapa? 35 MYR aja dong. Yaaa tapi nggak apa-apa deh, rasanya ngangenin. Bikin puas.


udang harga lobster tapi enak bangeeettt, plus itu ais limau-nya juga seger 

Selesai makan, kami putar-putar nggak jelas, sampai masuk mall segala dan berakhir dengan drama deg-degan karena Mbak Ratih mesti pergi ke bandara. Alhamdulillah semua masih lancar jadi Mbak Ratih nggak ketinggalan pesawat. Saya dan Palip gimana? Berasa ngos-ngosan trus mampir Prangin Mall beli cendol.


Penang Road Famous Teochew Chendul
Menikmati sisa-sisa hari berdua dengan kembali berjalan-jalan selepas istirahat dan beberes. Kemana lagi? Dengan isengnya kami main ke AB Cafe alias Aini Bakker yang bernuansa hitam putih dan memesan moist cake plus kopi. Well, karena sudah terbiasa dengan kopi kaki lima, kok ya malah jadi nggak mantep kalau minum kopinya cafe. Hehehehe.... Tapi okelah... cukup menyenangkan bisa menghabiskan waktu berdua, ngobrol ngalor ngidul (yang sampai sekarang saya juga bingung kenapa ini bisa terus terjadi) dan foto-foto. Selepas itu, kami iseng lah ya kembali jalan menyusuri George Town. Ide saya adalah pergi ke Little India yang pasti meriah dong di malam minggu. Tapi apa yang terjadi? Palip malah ketakutan dan insecure dengar lagu-lagu India yang serupa mantra. Hahahahaha... Ya sudahlah... kita pindah lokasi saja.

Kami kemudian mengarah kembali ke hotel dan ingin melihat keriaan di Lebuh Kimberley di mana mayoritas pengunjungnya adalah etnis Tionghoa; sepertinya karena makanannya cocok dengan mereka. Tepat di ujung jalan dari arah hotel tempat kami menginap, saya tiba-tiba mencium wangi yang sangat familiar “Kok bau duren sih,” kata saya girang. Palip biasa aja lempeng. Saya pun mempercepat langkah dan melihat sebuah mobil pick up berisikan durian-durian dengan ukuran kecil. Banyak orang berkerumun. Saya memberanikan diri mendekat dan bertanya harga. Para penjual yang ramah dan pelancong yang juga ramah membuat saya lebih percaya diri mendekat. Ya abis, deg-degan mahal kan harga durian. Ternyata oh ternyata, harganya murah. Saya iseng memegang sebuah durian kecil yang kata penjualnya kalau tidak manis bisa ditukar. Berapa harganya? 5 MYR saja (ini setelah ditimbang ternyata beratnya 500 gr). Trus gimana rasanya? Aduuuuhhhh... legit banget. Feel free banget makannya, karena nggak banyak makan, tapi mantab rasanya jadi puas; harganya pun murah luar biasa. Padahal itu durian kampong dengan usia pohon kata penjualnya mencapai 100 tahunan. Ah, I don’t care, yang penting enak dan murah. Hihihi.... Maka, satu cita-cita lagi pun tercapai: Makan duren Malaysia (sungguh cita-cita yang cetek).



Durian Kampong
Dari situ sebenarnya kami masih ingin cari makan tapi sepertinya sudah terlalu larut malam sehingga makanan pun terbatas. Alhamdulillah ketemu tukang buah segar sehingga kami bisa menutup hari dengan bahagia. Lagi-lagi nggak merasa bersalah sudah mengkonsumsi banyak lemak hari itu karena endingnya makan semangka dan jambu air. Hihihi....

Hari terakhir gimana? Sedih laaahhh... singkat pun. Setelah beberes dan sarapan di Komtar (pastinya Palip mbungkus popiah) kami harus buru-buru naik bus ke KL. 


Jajanan pagi di Komtar

Untunglah naik bus jadi kami bisa sambil meresapi jalan-jalan di Penang pelan-pelan hingga hilang dari pandangan.

Thursday, October 1, 2015

SEA Trip 4: Cha Am and Hua Hin are Just Way too Cute!

Gara-gara mesti ngumpulin topik untuk reading course, jadilah tertunda ini ulasan soal Cha Am dan Hua Hin. Padahal, ini bagian paling favorit dari trip 9 hari saya bersama suami. Kenapa Cha Am? Karena saya dan suami pingiiinn banget pergi ke Santorini. Tapi, berhubung belum ada anggaran ke sana, jadilah ketika kami dengar kalau Thailand punya taman bertema Santorini kami semangat untuk datang. Jadi, setelah browsing sana sini soal Santorini Park dan objek di sekitarnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu 2 malam di Hua Hin, kota yang jaraknya sekitar 20 km dari Cha Am.

How to get there?
Gampang! Naik aja van yang ada di dekat BTS Victory Monument. Kalau cuma sampai Cha Am tarifnya THB 160 dan kalau bablas sampai Hua Hin jadi THB 180. Alternatif transportasi lainnya bisa dilihat di sini.  Kemarin kami memutuskan naik van karena itu yang termudah.


Day 1: Santorini Park, Camel Republic, Swiss Sheep Farm, Chat Cai and Chatsila Market

setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, pak supir menurunkan kami tepat di Pony Valley Farm (tempat wisata juga tapi nggak tau sepi gitu) di sebrang Santorini Park. Jadi, kami harus nyebrang jalan yang ternyata highway lagi; dan yang ini lebih gede dari highway di Melaka waktu itu. Kincir raksasa yang terpampang di pintu depan atraksi wisata ini langsung bikin kami semangat foto-foto. Terlebih, saat itu matahari tidak seterik cerita orang-orang, bahkan cenderung mendung. Alhamdulillah....

Santorini Park rasa mendung

Setelah membeli tiket masuk sebesar THB 150 (termasuk tiket masuk Camel Republic yang jaraknya 2 km dari Santorini Park), kami pun masuk. Trus gimana kesannya? Aku agak kecewa kakak..... Kenapa? Soalnya ternyata lagi-lagi kami dapat lokasi wisata yang sedang direnovasi.

Btw, Santorini Park ini lokasi wisata apaan sih? Jadi, sebenarnya, isinya adalah jajaran toko yang didesain menempati keliling tempat wisata. Walau isinya toko-toko, tapi banyak spot foto bagus yang bikin kita tiap melangkah akan berhenti-berhenti dulu. Jadi, bisa sih kalau iseng sampai 2 jam-an di tempat ini. Tapi saran kami sih, nggak usah terlalu lama. Ada lokasi wisata lain yang lebih menarik.

Yeay dapet juga tiketnya

Lucu kan spot-nya

Seru foto-foto plus mampir ke toko GTH (buat yang suka film thai pasti tau)

Setelah puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua yaitu Camel Republic. Gimana ke sananya? Jalan kaki aja dong. Lokasi Camel Republic ini di sisi sebrang Santorini Park, jadi jangan lupa menyebrang lagi. Dan, lumayan capek juga berjalan 2 km di tengah hari bolong. Review Camel Republic gimana? Konsepnya agak tanggung juga, tapi kalau suka liat dan kasih makan binatang... boleh lah. Arsitekturnya juga lucu ala ala Timur Tengah.

Camel tapi ada dombanya. Hihi... Kece toiletnya jadi saya selfie

Kami cuma sebentar saja ke Camel Republic karena sudah kelaperan dan belum menemukan makanan halal dan tempat sholat. Jadi...kami langsung berencana 'ngebut' ke lokasi wisata berikutnya yaitu Swiss Sheep Farm lalu buru-buru ke kota Hua Hin dan mencari tempat sholat. Jarak 1 km dari Camel Republic ke Swiss Sheep Farm kami tempuh lagi dengan berjalan kaki. Ternyata, di sebrang Swiss Sheep Farm ada makanan halal sehingga kami mampir sebentar ke sana. Sayangnya, penampakannya kurang menyenangkan sehingga kami makan benar-benar hanya mengganjal perut dan minum banyak air serta mampir ke rest area di sebelahnya untuk beli mangga muda yang ternyata maniiisss dan segar.


Selesai mengganjal perut, kami menyebrang ke Swiss Sheep Farm. Daaaannnn.... langsung sukaaaa.... Swiss Sheep Farm ini akhirnya jadi lokasi terfavorit kami di Cha Am. Meski tempatnya tidak terlalu luas, tapi konsepnya jelas dan indah. Siang itu juga, amazingly sejuk, jadi bahagia beneuurr.... Jadilah kami foto-foto lebay. Oia, untuk masuk ke sini, kami bayar tiket THB 120 per orang termasuk tiket kasih makan domba-domba lucu. Ini dia foto-fotonya.


Nuansa peternakan modern lengkap dengan dekor ala Halloween

Gimana nggak tiap liat objek foto coba kalo lucu gini?

Kan lucu kan bisa kasih minum domba sembari foto-foto lagi

Bagus-bagus kan? Tapi, target kami keluar dari tempat itu pukul 15:45 padahal kami tiba pukul 14:50. Kenapa? Karena bus terakhir ke Hua Hin adanya pukul 16:00. Sedih sih, karena kelamaan di Santorini jadi kurang puas di Swiss Sheep Farm, tapi daripada kami nggak bisa ke Hua Hin kan.

Sekitar pukul 15:45 kami keluar Swiss Sheep Farm daaannn.... nggak dapet bus aja gitu. Memang busnya jarang-jarang lewatnya. Akhirnya, suami saya lambai-lambai tangan dan alhamdulillah ada van yang berhenti dan mau mengangkut kami sampai ke jalan penginapan di Hua Hin dengan tarif THB 50 per orang.

Sampai di Hua Hin, kami beberes. Kami menginap di Baan Taweesuk Guest House. Lokasinya memang masuk gang, tapi strategis karena dekat dengan Pasar Malam Chat Cai dan Chatsila Market. Tinggal nyebrang jalan besar dan keriaan sudah nampak. Jadi, setelah kami sholat, mandi dan beberes... karena lapaarrr yang sudah tidak bisa ditahan, setelah maghrib kami langsung jalan kaki ke pasar malam. 

Di ujung pasar malam ini, tepatnya di Soi 72, ada 2 tempat makan halal, tapi tutup sekitar pukul 20:00. Di sana kami pesan tom yum dan telur dadar, lengkap dengan nasi putih tentunya. Sudah pasti ludes karena dari siang belum makan beneran. Oh iya, kalau makan di Hua Hin pesen telur dadar ya... enak bangeettt, beneran deh... apalagi makan pake nasi sama tom yum itu udah paling bener buat perut orang Indonesia.

Tinggal pilih mau ke Chat Cai yang di pinggir jalan dulu atau masuk ke Chatsila market yang ada di lorong-lorong jalan

Puas makan, alhamdulillah, kami lanjut jalan-jalan mengelilingi pasar malam dan beli jajanan yang semacem wajib dibeli pas ke Thailand entah di bagian Thailand manapun kita berkunjung. Iya, kami beli coconut ice cream dan mango sticky rice. Ih enak banget beli di sini, mungkin karena penampakannya bersih jadi saya langsung seneng. Hehe... Yak, jadi begitulah... kami pun menutup malam dengan jajanan manis. Berharap hari esok jauh lebih manis. Tsaaahhhh....



Day 2: Masjid Darul Muhayireen, Plearn Wan Market, Cicada Market

Keesokan harinya kami pindah penginapan? Kenapa? Entahlah kenapa yang jelas itu keputusan buruk untuk menginap di Giulietta e Romeo. Jauuuhhh dari mana-mana walau lokasinya di pinggir jalan. Sepertinya waktu itu kami kepikiran mungkin akan asik ketemu orang Italia. Eh nyatanya dooohhh pengalaman nggak enak nih karena ternyata penginapan ini semacem niat nggak niat bukanya. Jadi, ceritanya ini adalah penginapan yang menyatu dengan restoran pizza dan masakan Italia. Memang yang punya penginapan jago bahasa Inggris dibanding orang lokal tapi soal pelayanan, well...kayak penginapan belum jadi. Payah. Kami harus pindah-pindah kamar dan petugasnya tidak ada yang stand by ketika kami butuh bantuan. Oh dan di hari check out, akhirnya kami tinggalkan saja kunci kamar tergantung begitu saja. Beneran, gak ada orang cyiin. Kacau.

Untunglah dari kapan tau kepikiran untuk sewa motor sehingga kami leluasa untuk bepergian kemana-mana jadi bisa menghibur kami yang terlanjur kecewa dengan penginapannya. Oia, coba cek di sini kalau mau sewa kendaraan. Emailnya juga aktif dan responsif pengelolanya. Dengan biaya sewa sebesar THB 200 untuk 24 jam (iya kalau sewa jam 10 pagi, kembalikan jam 10 pagi esok harinya) dan uang deposit THB 1000 kami memilih Honda Scoopy warna hitam lengkap dengan pinjaman 2 buah helm.

Kebetulan hari itu adalah hari Jumat (walaupun musafir ya tetap pingin ngerasain jumatan di negara lain), motor yang kami sewa sangatttt berguna. Kenapa? Ini karena saat kami sarapan nasi goreng di warung halal (di Soi 72 tepat di depan lokasi makan tom yum semalam), pemiliknya bilang kalau masjid hanya ada di Cha Am (what? balik lagi gitu sekitar 25 kilometer). Ya sudahlah... dicoba saja. Toh ini esensi perjalanan kan: mencari kedamaian dan kebahagiaan. Dan kami bahagia mencari masjid, hehehe...

Selepas segala urusan drama penginapan selesai kami baru bisa berangkat dari Hua Hin sekitar pukul 11:50 (apakabar sholat jumat baru jalan jam segitu). Rasanya campur-campur. Kesel, pengen marah-marah karena rencana nggak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi suami menenangkan bahwa yang penting kita sudah berusaha yang terbaik, tinggal apakah rejekinya atau bukan untuk bisa ketemu jamaah sholat jumat. So, melaju lah kami di highway dengan kecepatan tinggi. Ini bukan karena niat, tapi karena suami kebawa suasana kencang kendaraan yang melintas highway dan jadi ngeri sendiri ketabrak kalau kami terlalu lamban, plus....ternyata SPEEDOMETERNYA MATI. Ya udahlah hajar aja jadinya. 

Alhamdulillah dengan panduan googlemaps kami bisa sampai di sana sekitar pukul 12:45. Lelah saya. Hehehe... Oia, ancer-ancer masjid ini kalau dari arah Hua Hin adalah di sisi kiri dan setelah melewati Hotel Dusit Thani (ini ada di kanan dan besar) ada pom bensin (di kiri) langsung berbelok masuk ke jalan setelah melewati pom bensin dan ikuti saja jalan hingga ketemu masjid. Rasanya seperti tiba di negeri antah berantah karena lokasi masjid yang ada lumayan jauh di dalam. 

Syukur alhamdulillah lagi, ternyata jumatan mulai pukul 13:00 sehingga suami bisa ikutan sementara saya santai dulu duduk di warung menunggu giliran sholat. Ahhh... benar-benar pengalaman yang bikin dag dig dug lah kejar-kejaran waktu sholat di highway dan suami planga plongo juga dengerin kutbah bahasa Thai dimana dia cuma paham arti Assalamualaikum, Allah swt dan Rasulullah saw. Hehehe... Tapi emang ya, saya dan suami suka lihat-lihat masjid kalau lagi jalan-jalan, karena selalu dapat pelajaran jadi girang-girang aja. Seperti contohnya, kami jadi bisa diajak ngobrol sama imam masjid yang ternyata jago bahasa Inggris, Melayu, dan Thai. Kami jadi bisa belajar bahwa 'hidup itu harus berguna'. Percuma punya ilmu jika tidak diamalkan. Yak, dan kami pun masih proses belajar, begitulah sodara-sodara.

Penampakan masjid dan kami yang kusam abis; berbekalkan googlemaps dan scooter sewaan

Lepas jumatan kami puter balik lagi dong ke arah Hua Hin. Kali ini hujan turun lumayan deras mengiringi jalan kami mengunjungi Plearn Wan Market. Ini sebenernya (lagi-lagi) jejeran toko bertema eco village. Kami cuma beli es fanta aja dan liat-liat karena lokasinya juga tidak terlalu luas tapi bagus banget dengan rumput sintetis yang menghiasi halamannya. 

hijau dan basah

Setelah hujan selesai kami bergegas kembali lagi ke Soi 72 (iyaaa demen banget balik ke sini) karena kami kepingin makan snack siang semodel martabak dan roti canai. Udah makan itu saja tanpa nasi dan pesannya kebanyakan sampai harus bungkus-bungkus. Enak bangettt... Dan niatnya setelah itu beberes di penginapan sebentar untuk kemudian main ke Cicada Market yang sudah diincar-incar dari jauh-jauh hari.

Makan Siang Kalap!

Malam hari tiba.... Waktunya pasar malam lagi... Dan seperti kebanyakan pasar malam besar di Thailand, Cicada ini juga cuma buka di akhir pekan (Jumat-Minggu). Jujur, ini adalah pasar malam paling mengesankan yang pernah saya kunjungi karena rapih, bersih, indah, dan bernuansa. Ya pokoknya ini pasar malam bisa bikin kita senyam senyum karena banyak hal-hal cantik di sini, baik suasana maupun barang-barangnya. Ada live music juga ya walaupun kami nggak ikutan karena harus bayar lagi. Tapi mayan lah kedengeran lagu-lagunya dari luar.

Disambut pemandangan ini di pelataran masuk weekend market

Stand-stand kreatif

Lucu-lucu ya

Saya beli sepatu lukis ini yang udah diincer dari jauh-jauh hari

Untuk makan gimana? Di Cicada nya agak ragu ada makanan halal jadi kami cuma tengak tengok aja. Tapi jangan khawatir. Kalau kita keluar dari Cicada market, ada semacam 'pasar tambahan'; penampakan awalnya sih kirain "Oh, ini pedagang yang biasa aja bukan produk kreatif kali ya". Naahhhh.... susuri aja pasar itu. Namanya Tamarind Market, sama juga bukanya hanya weekend. Di Tamarind ini ada 4 halal stand (snack friend chicken, teh tarik, makanan thai, dan makanan melayu). Belanja lah makanan di sini, enak-enak juga kok dan yang penting ayem hatinya.

Makanan halal di Tamarin market

Hmmm... menyenangkanlah ya menghabiskan weekend di Cicada Market ini dan kalau mau dapat gambar lebih ciamik enaknya datang dari sore deh.

Selesai kami jalan-jalan dan dapat jajanan plus belanjaan, kami kembali ke penginapan. Agak ragu juga harus parkir di mana motor sewaannya. Ternyata kata pemilik penginapan, motor bisa ditaro saja di jalanan asal tidak mengganggu. Beneran lho ini, panik ngebayangin gimana kalo di Indonesia motor meleng dikit aja bisa dicuri kan. Akhirnya ya udahlah ya, sambil baca-baca doa semoga itu motor aman-aman aja diparkir di jalanan.

Parkiran begini aja gak ada yang jaga. Hiks... worry aku. Gambar diambil pas sore hari

Day 3: Hua Hin Station and Khao Takiab Temple

Esok harinya, yaaaaa.... kami harus kembali lagi ke Bangkok. Kembali lagi ke sibuknya ibukota. Jadiiii... sebelum kami ikut kebawa hectic, kami bangun pagi-pagi mau nyari pantai. Sedih dong ah udah ke Hua Hin masak nggak mantai kitah.... Sama satu lagi... mau punya foto di stasiun Hua Hin yang nyeni itu.

Stasiun Hua Hin; bisa lho ke Bangkok dari sini juga naik kereta

Penampakan depan

Jadilah selesai mandi pagi masih pake baju-baju anget gitu suami melajukan motor ke arah Khao Takiab Temple. Jadi ini adalah temple yang letaknya di tepi pantai. Kami nggak masuk sih menikmati pemandangannya aja. Abisan, saya males maen-maen sama monyet gitu kalo masuk. Hehe... penakut.


Khao Takiab Temple. Cantik yaaa....
Sudah puas ambil-ambil gambar yang tadinya cuma bisa kami saksikan via internet, kami pun bergegas mencari sarapan. Kemarin sempat ketemu sama orang lokal tapi asal Melayu bahwa ada makanan halal persis di depan stasiun. Jadilah kami kembali ke depan stasiun dan lagi-lagi makan nasi tom yum pake telur dadar dan pesen teh tarik. Tapi sebelumnya, di pinggir jalan kami bertemu ibu-ibu berjilbab jualan semacem cakwe tapi manis, ya kami beli jugalah ya sambil pesan kopi susu juga. Manteeppp lah pokoknya... Nah, saat kami pesan makanan, tiba-tiba stasiun rame, ternyata ada tabrakan. Hiks... Syok akuh.... memang harus hati-hati berkendara di sekitaran stasiun ini karena jalanannya yang memang agak memutar. Syukurlah tidak ada yang serius dan ambulans bisa cepat datang.

Setelah kejadian itu, kami jadi ngerasa mesti pelan-pelan dan nggak usah ngoyo, nggak usah rusuh, se-kekejarnya aja yang penting udah usaha on time di perjalanan. Seperti di Hua Hin ini, sebenarnya banyak lokasi yang masih ingin kami kunjungi tapi waktunya nggak cukup. Masih pengen tau Sam Roi Yot National Park atau ke Wat Huay Mongkol dan melakukan banyak kegiatan lagi di sana. Ah, next time maybe ya suami...

Udah deh jadinya itu saja 3 hari 2 malam di Cha Am dan Hua Hin... selesai makan, kembali ke penginapan, beberes lagi, kembaliin motor sewaan (jangan lupa minta balik uang THB 1000 nya), trus langsung naik van yang ada dekat lokasi penyewaan motor.

And.....Bangkok... we're back!


Wednesday, August 26, 2015

SEA Trip 3: Finally Bangkok!

By the way, hari ini umur saya 30 tahun dan pagi tadi sudah sarapan pake red velvet cake hadiah dari suami plus secangkir milk tea, jadi sekarang masih kenyang... Ih makasih ya suami baik hati yang ngerti banget istrinya suka drama romantis dan selalu pengen dikejutkan. *siap-siap nonton Cinta di Musim Cherry* hehehehe....

Kece ya kece ya ;)

Yak, tapi saya bukan mau cerita itu. Saya mau cerita lanjutan perjalanan saya dan suami waktu liburan kemarin. Akhirnya ke Bangkok juga setelah 2 kali ke Thailand malah pergi ke Hatyai sama Krabi. Nah, setelah drama Melaka yang diredakan dengan santai-santai di Saigon, grafik emosi naik lagi pas nyampe Bangkok dong. Kenapa? Ya, namanya pun ibukota ya... jalanan ramai, orang-orangnya ngebut, dan pasang muka sibuk. Kami yang tiba di bandara Don Mueang sore hari dan naik bus A1 menuju BTS Mo Chit untuk lanjut ke BTS Sala Daeng dan jalan menuju Thrive The Hostel di daerah Patpong, jadi merasa seperti orang yang baru pulang kerja dan rebutan naik bus. Iya, kami berdiri di dalam bus yang ongkosnya cuma THB 30 dan bersisian dengan para pelancong yang membawa koper dengan wajah sungguh-sungguh sibuk. Mungkin hawa kotanya membuat kami semua seperti diburu-buru.

Kami juga sih yang memang memutuskan mau irit sehingga jika bepergian memang selalu menggunakan transportasi massal. Bikin itinerary komplit pake estimasi ongkos BTS dengan berpanduan dari website http://www.bts.co.th/customer/en/02-route-current_new.aspx jadi bisa memperkirakan biaya yang akan keluar. Nah, untuk liburan di Bangkok ini kami menghabiskan waktu 2 hari ditambah 2 hari lagi melipir ke arah pantai di Barat Daya Bangkok yaitu ke Cha Am dan Hua Hin.

Tiba di BTS Sala Daeng, kami agak kesulitan mencari lokasi Thrive The Hostel. Agak lama menemukan dan rasanya jauh. Padahal teman-teman sudah memberikan ancer-ancer. Ya, pengaruh rasa lelah membuat kami agak bodoh menerjemahkan peta. Btw, hostel ini didapat dari rekomendasi teman Alif dan teman saya dan mereka bilang ada jalan tembus 'ajaib' untuk bolak-balik BTS-penginapan. Untuk langkah pertama, tentunya kami lewat jalan normal. Nah, selesai kami beberes, malam harinya sekitar pukul 8 barulah kami siap jalan-jalan lagi. Mau lewat jalan 'ajaib' ah. 

Berjalan di jalan ajaib sungguh menegangkan buat suami saya. Iya, ini jalan isinya gay bar dan sejenisnya yang menyambung ke Thanon Thaniya yang merupakan red district-nya Patpong. Tapi, demi jalan cepat ya sudahlah ya... lewat saja. Nah, di Thanon Thaniya ini kami beli sim card merek AIS di Sevel setelah sebelumnya nggak beli di bandara. Kenapa? Karena kami cuma 4 hari-an di Thailand dan nggak butuh banyak data sementara di bandara dijual 1,5 gb. Kami memutuskan membeli yang hanya 500 mb dengan harga THB 199 (ya, paling cuma butuh untuk aplikasi maps, sedikit update status, dan yang terpenting bisa mengabari keluarga. Toh, di penginapan ada wifi). 

Malam itu, kami pergi ke Asiatique setelah naik BTS dari Sala Daeng turun di Saphan Taksin dan melanjutkan dengan free boat. Katanya, jam terakhir beroperasinya pukul 23:30. Jadi, yaa... saya dan suami tidak akan lama-lama di sana. Seru yaaa jalan-jalan di Asiatique. Nyaman dan menyenangkan selain bagus untuk foto-foto. Makanan halal juga ada di sana, tapi malam itu belum tergerak untuk makan jadi ya sudah kami menikmati suasana saja dan kembali ke penginapan.

Pemandangan Asiatique dari free boat

Free shuttle boat untuk bolak balik Sathorn Pier (Saphan Taksin) - Asiatique
 
Main-main di dalam Asiatique

Esok harinya kami pergi ke area Grand Palace, tapi lagi-lagi karena nggak fokus, salah belok. Setelah mengikuti petunjuk orang-orang untuk pergi ke Saphan Taksin dan naik kapal berbendera orange atau kuning (supaya bayarnya THB 15 per orang) dan tiba di dermaga N9, kami malah belok kanan. Akhirnya sampe di Wat Pho dulu. Eh tapi alhamdulillah, masih sepi jadi leluasa foto-foto di Wat Pho. Setelah membayar tiket THB 100 (gratis air mineral) kami keliling Wat Pho yang ditutup dengan foto andalan di reclining Budha.

Wat Pho



Lepas dari Wat Pho, kami berjalan memutar ke arah Grand Palace dan mendapati kerumunan padat orang-orang yang membuat kami merasa amat enggan masuk ke dalamnya sehingga memutuskan untuk memoto Wat Phra Kaew dari sisi luar istana saja. Lagipula kalau masuk harus bayar THB 500 (walau ada bonus masuk Dusit Palace juga). Kami lalu lanjut berjalan ke arah dermaga N8 dan memandang Wat Arun di seberang yang sedang DIRENOVASI AJA DONG. Jadi... bye deh ah males juga. Hihihi... padahal mah jadi bisa ngirit THB 3 buat boat + THB 50 buat masuk Wat Arun. Lhaaa... trus jadinya ngapain dong kalo cuma masuk Wat Pho? Tenaanggg.... kita lanjut cari tempat kece. Btw, banyak buah-buah segar di sekitar areal wisata ini, nggak ada salah nya lho cobain beli. Harganya bervariasi antara 30-40an baht, kecuali duren ya. Hihihi...

Wat Phra Kaew dari sisi luar Grand Palace

Wat Arun-nya keliatan lagi direnovasi

Okey, lanjut perjalanan. Setelah balik lagi ke Saphan Taksin, kami naik BTS ke Victory Monument dan lanjut cari bus ke arah Dusit Zoo dari halte besar di depan kawasan Rajavithi Hospital. Katanya bisa naik bus no. 28, 108, 510 atau 515. Kebetulan kami naik bus nomor 28 yang AC dengan ongkos THB 13 per orang. Tiba di halte Dusit Zoo lanjut jalan sekitar hampir 1 km ke gerbang Vimanmek Mansion dan masuk ke situ. Bagus banget tempatnya. Oia, tiket masuk situ THB 100 dan ada tur berbahasa Inggris pukul 11:00 dan 14:00. Berhubung kami sampai tengah hari bolong, jadi istirahat dulu untuk kemudian ikutan tur jam 14:00. Jadi Vimanmek Mansion ini adalah tempat peristirahatan King Rama V. Ada banyak cerita-cerita terutama soal koleksi-koleksi keramik sang raja dan bagaimana raja ini pinter banget sampe sekolah di luar negeri dan menjalin persahabatan dengan negara-negara lain lewat perdagangan (ya pesen-pesen keramik atau barang mahal apalah). Seru masuk mansion ini karena kan lantainya dari kayu jati asli. Adem...



Selesai tur, kami lanjut lagi. Ngapain? Mau nengokin Ananta Samakhom Throne Hall. Ini tempat bagusnya kebangetan kayak lagi di eropa (belom pernah ke sana padahal sih). Tapi, lagi-lagi kami nggak masuk karena kali ini udah kelaperan bangeettt dan capek luar biasa. Jadilah kami cukup berfoto-foto di luar. Next time ke Bangkok, mau ah masuk. Oia, harga tiket masuk ke sini THB 150. Ini museum juga sih sebenernya isinya, tapi kalo baca-baca review orang, baguuusss banget. Sayang sebenarnya harus terlewati.



Nah, karena udah kelaperan, kami balik ke Victory Monument (kali ini dapat bus no. 28 tanpa AC ternyata tarifnya THB 6,5 per orang) dan lanjut naik BTS ke Ratchathewi untuk main-main ke Mall Platinum. Bukan main sih ya, sholat dan makan aja. Daaannn...saya sukaaaa banget sama mall ini karena tempat sholat-nya bersih, bagus, ada lotion-nya juga plus makanan halal di food court-nya harganya terjangkau (sekitar THB 45 untuk semangkok hidangan sejenis bakso). Mushola di mall ini untuk laki-laki ada di lantai 5 dan perempuan di lantai 2 di zona 2 dekat lift dan toilet.



Nah... setelah cukup istirahat, tadinya kami mau ngemil-ngemil cantik di depan Platinum tapi entah gimana akhirnya malah jalan terus keluar mall mengarah berbelok ke Jalan Ratchadamri. Melihat ada supermarket Big C kami belok dan iseng ngecek harga Nestea Thai Milk Tea. Ternyata miriiiinggg harganya. Kalau di tempat lain sebungkus THB 100, di Big C cuma 90, jadilah kami beli 6 bungkus untuk oleh-oleh dan titipan teman. Selepas belanja dan minum kelapa, kami mencari BTS terdekat (ternyata ada BTS Chit Lom) dan kembali ke penginapan. Harus istirahat nih karena besok mau jalan-jalan ke luar kota. Hihihi.. Oh btw, saya kalo beli kelapa kecil di Thailand suka gemes karena itu kan kelapa muda ya, tapi nggak dikerokin sama yang jual padahal saya suka sekali sama degan-nya. Akhirnya kelapa yang sudah habis airnya itu nggak saya buang tapi saya bawa ke penginapan, saya beli air kelapa kemasan di sevel, dan sesampai di kamar di penginapan saya makan daging kelapanya dengan air kelapa kemasan. Hehehe... Saya nggak mau rugi orangnya!

Asik ya, menutup hari dengan manisnya kelapa Thailand ;)