Monday, June 18, 2012

Teman Baru

Akhirnya, akhirnya, akhirnya... saya punya kamera saku lagi. Ini kali ke-3 beli kamera. Waktu kuliah pernah punya OLYMPUS seharga 1,25 juta, yang cuma 3,2 megapixels aja dong. Setelah si kamera perdana yang dibeli dengan ngiprit-ngiprit uang jajan itu dihilangkan oleh seorang teman, saya pun beli SONY 7,2 MP yang waktu itu harganya 1,5 juta-an. Maklum yah, sini kan kelas proletar, beli barang pasti yang ekonomis. Muahahahaha....

si SONY tukang ngambek yang dipensiunkan

Setelah si SONY mengalami penurunan performa yang bikin saya amat kesal karena beberapa foto liburan cihuy rusak sendiri, padahal sini pergi tamasya udah nabung-nabung gitu. Hih... sebel. Bayangin dong itu Lombok, Bali, KL, Penang, Hatyai, sampe Spore nggak terabadikan dengan maksimal. Gimana nggak kesel, padahal udah pose poll?

Lalu, lalu, lalu... Kemarin, di pameran seluler, saya nitip adek saya untuk cariin kamera yang budget-nya 2 jutaan tapi bagus. Maaf deh, sini nggak kenal SLR atau DSLR. Menurut saya kamera bagus itu bagi yang mampu. Macem naik haji aja. Hehe... Tapi serius, kalo nggak jago foto dan nggak punya duit, sayaaanggg...

Nah, jadilah saya berjodoh sama doi yang warnanya ungu, padahal saya suka hijau. Kenapa tiba-tiba ungu? Ya, karena sudah jodoh. Halah...

Jadilah saya mulai latihan jeprat-jepret. Dan saya sukaaa... Apalagi ada fitur-fitur ciamik macem creative filter. Cocok buat saya yang nggak paham fotografi. Lha, ngertinya cuma bagus sama jelek doang:D

Oia, sebenernya inti posting-nya mah pamer foto. Yuk, lah mari dilihat. Hehehe...

Pini Similikiti, yang ditinggal mamah-ayahnya maen ke pameran seluler buat beliin aunty-nya kamera

balooonnnn

Lampu-lampu kecil, beli di PRJ 75k, yang dipajang di kamar. Sok-sok-an berseni ceritanya:D

dan akhirnya, boleh dong saya nampang di antara timun emas dan buto ijo

Friday, June 8, 2012

Being More Me

Lately, I feel so bad about my life. I'm lack of confidence. I hate being the antagonist one, every time I stand along good people. I don't know why in a lot of time, they make me do it. Why don't just be good together?

I don't want to blame anyone. I know it's all about me and my still-dirty-and-not-sincere heart. I think I'll try to fix it. Yeah, I'll try...

Well, opening my twitter timeline, I found some interesting things to, let's say, help me facing these...

No matter what you look like, Allah made you that way & for a reason too. That's enough for you to feel confident.

The bad things in life open your eyes to the good things you weren't paying attention to before.


"If your request is delayed there is no doubt that in that delay maybe all you wish for." -Al-Habib Ali al-Habashi

and maybe, I shall try this also:

Having trouble focusing in prayer? Visit the grave.

Saturday, May 26, 2012

Complicated


Kadang bingung dengan pernyataan yang keluar dari mulut sendiri. Mungkin dinyatakan dengan sadar atau bisa jadi malah efek alam bawah sadar. Entahlah. Yang jelas saat terlontar, awalnya mantab namun akhirnya menggantung dan membuat kening lawan bicara berkerut. Pun begitu dengan yang mengutarakannya. Malah berakhir di tanda tanya.

Percakapan muter-muter dengan seorang teman yang suka menganalisa karakter.

Teman : Punya kriteria apa?
Saya : Kriteria itu kan ada ketika kita belum menemukan yang dicari
Teman : Tapi ada yang dicari kan? Ya, berarti tetap ada kriteria.
Saya : Tapi kalau tiba-tiba nemu yang nggak sesuai sama kriteria tapi nyambung aja, kriterianya jadi nggak berlaku.
Teman : Ya kalau nyambung berarti ber-selera, kan kriteria juga
Saya : Ya, iya sih
Teman : Jadi apa?
Saya : Enough about me, elo aja
Teman : Hahahaha...
Saya : Heh, jangan suka mengalihkan. Lo gak tau kan gw persistent?
Teman : Dalam hal apa?
Saya : Hal-hal yang bikin gw penasaran
Teman : Persistent tapi nggak asertif ya?
Saya : Nggak asertif itu bawaan plegmatis akut kali, gw kan cinta damai
Teman : Peace and harmony ya?
Saya : Elo yang bilang ya. Nah, complicated enough kan gw?

Teman saya cuma bilang
Complicated itu value added;)

Ah, saya harap itu berarti positif...

Thursday, May 3, 2012

The Fourth Avenue Cafe - L'Arc~en~Ciel



Yesterday was Laruku's concert in Jakarta. If they had asked me, what would've been my favorite song, then I would've picked this song from OST of Samurai X. Since I don't understand Japanese, so I tried to find the lyrics in English which is apparently quite sad... Here it is...


The season quietly informed us of the end
Gathered up in the painted memories
Goodbye, to that person who loved me
Wavering in these eyes

Like a feeling I've been cut off from
I couldn't trust it from the start
As I was left behind by this ever changing street

Those people, who were always coming and going
Can be felt now in the distance
Even the noise grows dim
And fades away in a single breath

The empty space stared at me
On a boring day off
Without any sort of finish, you continue to be washed away

Even though I knew better, I pretended not to notice the pretense
I was drowned in it, always
Thinking about someone
Because even a side view of their face was heavenly

The season quietly informed us of the end
Gathered up in the painted memories
Goodbye, to that person who loved me
Wavering in these eyes

Later... just how long has it been?
Being... next to you
While thinking... of that, it was carved in time

It adds up and keeps returning... like a wave
Running away with this heart

Even today the city fills me with thoughts as ever
I draw them each individually...
Goodbye, to that person who loved me
Yearning for the distant sky
Wavering in these eyes

This ever changing street, overflowed with a sigh

Monday, April 2, 2012

A Weekend Before Long Weekend: The Raid and Red Velvet Cake

Saya nggak suka film berdarah-darah ya saudara-saudara. Tapi apa daya, kadang-kadang simply karena sulit menolak daya tarik mainstream, jadi keikut deh.

Iya betul! Weekend kemarin akhirnya nonton The Raid bareng Fauzan sama Gadis. Bagus filmnya, tapi bukan tipe saya. Mungkin kalo action-nya nggak kebanyakan darah saya lebih suka. Oh iya, Joe Taslim-nya ganteng. #teamJakagariskeras #sikap

Seperti bisa ditebak, keluar bioskop langsung butuh penenangan jiwa dong saya. Pulang ke Depok mampir dulu cari tempat buat santai. Pilihan akhirnya jatuh ke Souly Butter Kitchen di Jalan Kemang Raya karena Gadis kepingin red velvet cake.


minta foto-in tuan rumah dulu sebelum makan


ini red velvet yang kurang velvet dan lumayan mahal (45.000 sepotong)
Kedai cake ini imut banget. Tiba-tiba jadi seperti kembali ke Golden Age-nya Fauzan (kalo pinjam istilah Midnight in Paris). Iya, seperti balik lagi ke tahun 1990-an. Tau kenapa? Nih, liat ruangannya...

lucu ya? imut dan homy gini suasananya

kue-kue yang dijual, kayak masuk dapur sendiri, berasa main di rumah teman buat bikin tugas kelompok
Suasananya homy. Seperti masuk ke dalam kamar untuk belajar kelompok. Ditambah kedai ini sedang memutar KIS FM yang sedang memainkan musik-musik tahun 90-an. Entah kenapa saya ada perasaan musiknya keluar dari boombox. Hehehe...lebay kebawa suasana.

Nah, lagu yang diputar pas lagu-lagu boyband girlband, Meja, Warna, Lingua, sampai akhirnya kami request by twitter untuk diputarkan Mulder and Schully-nya Catatonia. Daannn...diputerin... Duh, tiba-tiba jadi kepikiran pengen ikutan Kak Emy bikin tulisan tentang 90-an. Besok deh...

Nah, di tempat ini, kami bertiga pesan red velvet cake. Saya pilih minum camomile tea (masih agak deg-deg-an nonton The Raid sih jadi butuh tenang, bodo amat kayak nenek-nenek) sementara Fauzan dan Gadis minum latte. Beneran berasa kayak di rumah temen banget. Jadi kadang-kadang kalau mau manggil mas-mas pelayannya, gatel banget manggilnya 'tante' karena suasananya itu.

Oia, review soal makanannya: setelah makan di sini, jadi pengen coba red velvet cake di tempat lain deh. Soalnya dulu nyoba red velvet cupcake di Bittersweet Plaza Indonesia itu sangat bertekstur kuenya. Ini lebih kayak cake sponge bukan velvet. Tapi, lumayan lah, lebih bikin adem hati.

Eh, tapi jadi nggak terlalu adem pas giliran bayar. Ya ampun tante... mahal ya. Sepotong red velvet gitu 45ribu (maksud saya, rasanya kan nggak fantastis jadi berasa mahal banget). Camomile saya kena 20ribu dan latte-nya 30ribu.

Ya udah deh tante, kalo ditraktir aja ya maen ke rumah tante lagi. Hehehe